Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Oleh : Udin Aminudin Lubis, S.Pd.M.Pd.*)

Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menjadikan pendidikan karakter sebagai platform pendidikan nasional untuk membekali peserta didik sebagai generasi emas tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan (Pasal 2). Perpres ini menjadi landasan awal untuk kembali meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Perpres No.87 Tahun 2017 tentang PPK mendefinisikan PPK sebagai “Gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)” (Pasal 1, ayat 1)

Kurikulum 2013 sebagai rujukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan, perlu mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Integrasi tersebut bukan sebagai program tambahan atau sisipan, melainkan sebagai cara mendidik dan belajar bagi seluruh pelaku pendidikan di satuan pendidikan.

Pada intinya, Penguatan Pendidikan Karakter mempergunakan tiga basis pendekatan utama PPK, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dan pendidikan karakter berbasis masyarakat.

  1. Pendidikan karakter berbasis kelas terbatas pada relasi antara guru dan siswa di dalam kelas dalam proses pembelajaran.
  2. Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan pembentukan karakter yang dilakukan melalui berbagai macam kegiatan yang melibatkan seluruh anggota komunitas sekolah, namun masih terbatas sebagai kegiatan sekolah di lingkungan sekolah.
  3. Pendidikan karakter berbasis masyarakat adalah berbagai macam bentuk kolaborasi antara sekolah dengan pihak lain di luar lingkungan sekolah, terutama orang tua, dalam bentuk komite sekolah, atau kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga dan komunitas lain yang mendukung proses pembentukan karakter peserta didik.

Tiga pendekatan ini merupakan pendekatan pendidikan karakter utuh dan menyeluruh yang harus diterapkan di satuan pendidikan. Keutuhan dan integrasi PPK ini juga ditegaskan di dalam Perpres Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter terutama pasal-pasal yang menjelaskan tentang penyelenggaraan PPK yang terintegrasi di dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler, dilakukan baik di satuan pendidikan formal maupun nonformal (pasal 6,7,8).

Harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga ini perlu menjadi dimensi dalam setiap program dan kegiatan di sekolah dalam rangka menanamkan nilai-nilai kebaikan agar individu tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang sehat secara jasmani, rohani, dan moral. Dalam Perpres dijelaskan bahwa fokus PPK adalah nilai-nilai Pancasila. PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab” (Pasal 3)

Sangat jelas bahwa pengintegrasian PPK dalam implementasi Kurikulum 2013 perlu diletakkan dalam kerangka pembentukan karakter peserta didik dengan nilai-nilai kebaikan yang merupakan impmelentasi nilai-nilai Pancasila. Fokus pendekatan PPK dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah pada pendidikan karakter berbasis kelas. Pendidikan karakter berbasis kelas merupakan keseluruhan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pemelajaran untuk memenuhi tuntutan minimal dalam kurikulum yang disepakati.

Pendidikan karakter berbasis kelas berbicara tentang bagaimana relasi atau hubungan antara guru dan peserta didik dalam konteks pemelajaran formal isi kurikulum. Selain itu, dalam pendekatan ini, bagaimana guru mengintegrasikan nilai-nilai pembentukan karakter dalam proses pembelajaran yang terintagrasi dalam kurikulum menjadi sangat penting. Guru perlu memahami bagaimana cara mempersiapkan dan mengintagrasikannya dalam proses pembelajaran melalui pemilihan metodologi pembelajaran, pengelolaan kelas, dan cara membuat evaluasi. Hal-hal ini menjadi bagian penting yang perlu dipahami pendidik dalam rangka mengintegrasikan penguatan pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013.  Semoga. u@

 (Disarikan dari Materi Umum Penyegaran Kurikulum 2013 tahun 2018)

___________________

*) Waka Kurikulum

6 thoughts on “Penguatan Pendidikan Karakter

  1. Jadikanlah karakter kita layaknya air, siapapun, apapun, dan sampai kapanpun akan terus dibutukan

  2. Pendidikan karakter bagus bagi setiap manusia karena,setiap manusia yang berkarakter baik akan mudah kedepannya

  3. Pendidikan Karakter yg diterapkan memang bagus,tapi alangkah baiknya sebelum melakukan tindakan vonis sebaiknya ditanyakan dulu alasan kenapa murid melakukan kesalahan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *